Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Diam


suatu hari unsur sadisme akan menyelinap dalam hidup kita
itu adalah saat kau dan aku bersepakat untuk saling melupakan
itu adalah saat kau dan aku bersepakat untuk diam
padahal kerinduan hingar-bingar menabuh genderang di rongga dada

Ada namamu di setiap jejakku
kuharap ombak bersedia membantuku menghapusnya

Jumat, 02 November 2012

Belati untukmu

sudah kutemukan belati terbaik
sayangnya, tak sekalian kutemukan cara terbaik untuk menikammu

setelah kuasah semakin tajam
tetap saja, tak kutemukan secuil pun keberanian untuk membunuhmu

meski kuhabiskan ribuan detik untuk mengintai titik kelemahanmu
menebak-nebak sarang terbaik untuk belatiku
namun, akulah yang mati saat membayangkan kematianmu

sampai saat ini, keberanian terbaik yang kumiliki adalah 
menyembunyikan belati itu di belakangku, sambil menikmati semua senyummu

Senin, 29 Oktober 2012

Sayap-Sayap Patah


selepas hujan senja tadi
aku nekad menuju matahari
demi menebus rasa bersalahku padamu
hendak kukumpukan gemintang paling terang dan pelangi paling cemerlang
meski kedua sayapku akan merapuh dan patah
--atau aku akan terbakar tak bersisa--

untukmu tak akan pernah ada yang sia-sia
karena senyummu jauh lebih berharga
karena tertawa bersamamu jauh lebih bermakna

kau lelaplah penuh damai malam ini
segenggam gemintang kuselipkan di tepi wajahmu
selingkar pelangi kugantungkan di puncak kepalamu

#semoga kau dengar lirih maafku malam ini

Selasa, 16 Oktober 2012

Hujan

Hujan, aku ingin berteriak, "AKU RINDUUUUUUU!!!"

semoga kau mendengarnya
setelah itu, hubungi aku segera
dan temani aku bermain di kaki gerimis senja

Selasa, 09 Oktober 2012

Menanti Bintang

hanya ini yang dapat kulakukan
---menatapmu menari bersama canopus dan vega---

kau terbang terlalu tinggi
---lupa bahwa aku hanya punya sepasang tangan rapuh---
sayapmu terlalu tangguh 
untuk kukejar dengan kakiku yang lebih sering tertatih

hanya ini yang dapat kulakukan
menatapmu menari di cakrawala hingga mentari memerah di ufuk sana
adakah kau ingat bahwa aku masih tertinggal di bumi?

Senin, 08 Oktober 2012

Akhir Musim

angin musim panas
membawaku pada pusaran kematian dalam kubangan rindu
tak ada yang bersisa dari semua kisah
bahkan sekadar ingatan tentang nama
hanya puing-puing rasa yang terserak 
penuh jelaga di taman-taman kota

Aku dan Pelangi

pelangi kirimanmu telah memudar dan pucat
sedang hujan tak kunjung tiba

wahai senja berbaik hatilah
bagi padaku separuh mentari merah
esok pagi kukumpulkan embun dan kabut
biar kucampurkan mereka dalam satu bejana harap
hingga tercipta ramuan pelangi rasa
kelak, kukirim dan kubagi pada semesta
meskipun hujan enggan menyapa
tak perlulah sepi meraja lela
sebab sebejana penuh pelangi sudah kupunya


Spring Tide

purnama pucat keperakan itu
merapuhkan biduk---yang dulu kita tumpangi berdua---
danau ini bosan terintimidasi sepi
rerumput di sana tenggelam oleh harap mengurai rindu
hanya angin yang tak pernah bosan bertandang
mengigilkan rasa membekukan asa
dan pagi tak kunjung tiba
kau pun entah di mana

Rabu, 19 September 2012

Lelakimu


di sinilah tempat terbaik menghabiskan waktu menunggumu
setelah berbaris-baris doa dirapalkan
persimpangan ini memungkinkanku melihatmu datang dari segala arah
jangan menunggu hingga senja
atau gerimis yang lebih dulu tiba
yang dapat membuatku gemetar dalam gigil rindu
karena di persimpangan ini aku ingin terus berdiri
hingga kau datang mengulurkan jemari

Gerimis


inilah alasan mengapa aku begitu mencintai gerimis
karena kau pernah datang
mengajarkan melodi tentang kasih sayang
dan cara mengeja cinta

Kala Hujan Tiba

hujan selalu menyenangkan untuk kunimati sendiri
ada siluetmu di tirai beningnya
meskipun, akhirnya
kutemukan retak membuncah saat berdenting di ujung jemariku

hujan selalu menyenangkan untuk kusesap aromanya
ada sapamu di gemericiknya
meskipu, akhirnya
kurasa semakin sayup saat kuangkat kepala untuk memastikan
adakah kau di ujung sana memanggil namaku?
untuk mengurai rindu

Menunggu



aku lupa menghitung waktu
(entah sudah berapa lama berdiri di sini) menunggumu
(menurutku) kau sudah terlalu lama menghilang dan diam
seharusnya kau datang dan bicara
ah... mungkin kau bosan memperbincangkan gemintang
mulai jemu bercerita tentang matahari
terlalu jenuh dengan rembulan yang biasabiasa itu
hm...  tahukah kau, ada segenggam cinta yang kusembunyikan
hanya menunggumu bicara
setelah itu, kuberikan padamu atau kuremukkan

Tentang Kita, Kawan


inilah kita di masa kanak-kanak dulu
membagi matahari berdua

menikmati hujan bersama
merayu rembulan berdua

Selasa, 11 September 2012

Dik...


semestinya kita selamanya seperti ini, Dik...
maaf... masa membuat keikhlasanku kian kikis
masa membuat ketulusanku kian menipis
kemesraan diantara kita semakin miris
seandainya saat itu aku sudah pandai berdoa
--biarlah selamanya kita kanak-kanak saja--

Sabtu, 08 September 2012

Paket Cinta


Allah... kirimkanlah tiga paket cinta
satu paket cinta-Mu untuk kami
satu paket cintanya untukku
satu paket cintaku untuknya
amin...

Rel


finally...
kau dan aku bukan lagi sekadar rel yang hanya bersisian
kau kini adalah stasiun, sedangkan aku adalah kereta yang semua gerbongnya penuh dimuati 
rindu dan cinta
lokomotifku hanya mengenal kau sebagai satu-satunya stasiun tempatku untuk kembali

Lingkaran Cinta


(Kau tahu? Tanganku gemetar saat memegang kotak ini)
aku tak menemukan sesuatu yang lebih baik untuk mengikat hatimu dan hatiku
selain nama Rabbku...
aku tak menemukan sesuatu yang lebih indah untuk mengikat hidupmu dan hidupku
selain akad suci ini
aku tak menemukan sesuatu yang lebih sempurna untuk menggambarkan rasaku dan rasamu
selain segenggam lingkar kemilau ini
semoga ia dapat mengikat kau dan aku
dan biarkan hanya Dia yang mengurai ikatan itu nanti...

Wahai Cinta, dengarlah...


wahai cinta....
karena Rabbku, aku meminangmu
wahai cinta...
dengan menyebut nama Rabbku, aku meminangmu
wahai cinta...
di hadapan ayahmu, aku meminangmu
wahai cinta...
mendekatlah padaku, kita seberangi samudra biru
berdua

Undangan

jika hujan penanda doa dikabulkan
maka kini
kulantunkan kidung suci
agar undanganku 
sampai pada lelaki yang mau menyimpan kakinya di surga
(Dian Hartitati, Kalender Lunar)