Jumat, 07 September 2012

Upgrading




Koordinatmu di mana
GPS dan radar jiwaku kehilangan jejakmu
Sistemku yang rusak atau bahasa HTML-ku yang makin payah?

Mungkinkah kau berjalan terlalu jauh

--di wilayah terluar batas sensorku--
atau kau sengaja menyembunyikn ID number-mu
sehingga selalu tampak invisible di layar programku

Besok kita harus bicara!

Kita harus memilih server dan operating sytem baru untuk kita gunakan bersama

Kita harus meng-upgrade internal memory kita agar memiliki kapasitas ribuan gigabyte lebih besar 
untuk menampung semua keluh, kesah, cerita, rindu, dan cinta

kita harus mengganti antivirus dengan yang baru yang memiliki sesor alami 
untuk melindungi hatimu dan hatiku
Kita buat local area network terbaru yang hanya menghubungkan hatimu dan hatiku


Kamis, 06 September 2012

Gerhana

seandainya hatiku dan hatimu adalah rembulan dan matahari
kita (mungkin) akan merusak keseimbangan alam
karena akan merekayasa begitu banyak gerhana
agar hatiku dan hatimu dapat selalu bertemu

(iin yakub, Sept'12)

Senin, 03 September 2012

Gerimis


mana jemarimu? kapan kau satukan denganku
entah sudah berapa musim gerimis berlalu
dan aku masih menunggumu di sini
selalu...

Menjelang Senja


tunggulah sebentar di sini aku sedang menemui matahari 
meminjam separuh sinarnya untuk temanimu esok hari 

Menanti Matahari



aku tiba di sini  lagi (sendiri)
padahal dulu kujanjikan puncak ini padamu
berharap menanti sinar pertama matahari pagi bersamamu

aku duduk di sini lagi (sendiri)
padahal dulu kau pernah berjanji 
menemaniku menikmati gugusan bukit barisan, berdua

dan inilah kita saat ini
terpisah ribuah meter di atas permukaan laut
di atas sini, aku masih berharap dapat menemukan siluetmu
(Septermber, 2012)

RINDU UNTUK ADINDA


Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu, Adinda. Kau masih memunggungiku. Menatap jendela di luar sana sepanjang hari. Aku tahu kau sedang meredam air mata. Rasanya aku ingin memaksamu membuka mata, Dinda. Menatapku lekat-lekat seperti dahulu. Lihatlah, aku selalu datang kepadamu untuk berbagai cahaya. Tak lama lagi Ramadhan tiba. Aku bukan mimpi atau segala hal yang memberimu sepi. Akulah tempat yang rindumu selalu kujaga, lukamu kurawat sabar. 
* * *
Aku memaksakan kaki tetap teguh membopongmu menembus malam dingin. Aku tahu tubuhku tak kokoh untuk menggendongmu. Namun, hati dan jiwaku memiliki kekuatan yang tak pernah kau bayangkan. Tetap saja, harus kuakui saat ini aku begitu lemah dan hampir menangis meraung. Aku merangkulmu dalam dekapan. Menatap wajahmu yang sepucat rembulan, tubuh lunglai, dan darah berderai dari rahimmu. Rasanya aku ingin memaksa malaikat agar membawaku menemui Tuhan. Di sana aku akan menyembah menyerahkan separuh usia dan seluruh amalku, “Biarkan aku yang merasakan sakit itu. Jangan dia. Tidak pula anak kami. Allah, aku mohon biarkan aku yang menanggung sakit itu. Dia dan anakku terlalu lemah, sudah terlalu lama berbagi nyawa—nafas—asa berdua.”
Aku terduduk lemas di pintu ruang operasi. Kubiarkan suster dan dokter memberikan pertolongan pertama padamu. Aku tak tahu harus melakukan apa. Memohon pada Tuhan agar sedikit berbaik hati padaku, padamu, juga pada anak kita. Aku meminta pada-Nya, jangan biarkan Izrail mendekati ruanganmu malam ini.
* * *
Sudah sebulan sejak peristiwa itu, Adinda. Kau masih memunggungiku. Padahal aku sungguh rindu merapatkan jemari kita berdua. Dinda, remahan rinduku masih tersisa segenggam di tangan. Sebagian telah kutebar di tengah gerimis siang ini. Kuharap ia ceritakan itu padamu, betapa aku sungguh merindukan sekuntum senyummu.
Adinda, aku minta maaf  telah membawa mimpi buruk dalam hidupmu. Maafkan aku. Pilihan yang ditawarkan padaku malam itu begitu sulitnya. Aku harus memilih. Memilih cinta mana yang harus kupertahankan walaupun aku mencintai kalian berdua sepenuh jiwaku, sama besarnya.
“Kondisinya labil, kita harus memilih.”
Ah… saat itu, aku kehabisan cahaya berikut oksigen yang biasanya memenuhi dunia kita. Alangkah pelitnya dokter itu memberikan pilihan. Kau atau anak kita? Saat kutanyakan, bolehkan aku memilih keduanya?? Dokter menggeleng. Kuputuskan untuk memilihmu. Dinda, jika semesta membutuhkan malam dan pagi untuk menemani hari, aku membutuhkanmu untuk menemani hidupku.
Adinda, maafkan aku. Malam itu aku juga mencerabutkan mimpimu untuk menimang anak kita. Bukan aku pemilik kehidupan di dunia ini, aku hanya memilih. Jundi kecil kita sempat menangis, tetapi amat lemah suaranya. Kau mungkin mendengarnya. Dia  memanggilmu umi dalam tangisnya, tapi saat itu kau pun selemah tangisnya. Aku mempertahankan eksistensi jiwaku saat menggendongnya pulang—tanpa sempat mengumandangnkan azan ditelinganya—lalu memandikannya. Dibantu ayah, aku membungkusnya dengan kafan dan mengantarnya ke pelukan paling hangat pemilik kehidupan. Adinda janganlah bersedih meskipun kau tak sempat menatap wajah tampannya. Saat ini ia sedang tertawa, bermain, dan menghafal Al Quran di raudhatul jannah. Kelak, dia akan menjemputmu saat semua orang kesepian di yaumil akhir. Dia akan menemanimu, Adinda, menghapus sepi dan dukamu di hari semua orang merasa bersedih. Dia hanya menginginkanmu untuk menemaninya bermain di tepian salsabila.  Adinda jangan menangis. Andai dapat kurapal mantera yang bisa menghapus duka, mungkin tak akan susah aku merinduimu seperti ini. Saat jermari kita tak lagi bersentuhan, kenangan hanyalah penghibur saat kesepian menggila seperti ini.
* * *
“Kita harus mengangkat rahimnya.”
Aku  terbelalak. Cobaan apa lagi ini? Belum cukupkah duka untukmu? “Apa yang tidak beres dengan rahimnya?”
“Kita harus menghentikan pendarahannya. Hanya itu satu-satunya jalan jika tetap ingin mempertahankan nyawanya.”
Ya Rabb… bagaimana nanti aku bercerita padanya saat harus menyampaikan semua kenyataan pahit ini. Bagaimana nanti dia tetap bertahan sebagai istriku dengan semua yang sudah tercerabut dari kebanggaannya sebagai ibu. Pertama anak, lalu kini hartanya paling berharga harus pula ia langsaikan.  Namun, aku mengangguk juga. “Selamatkan dia, bagaimanapun caranya.”
* * *
Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Kau tetap memunggungiku. Menghabiskan waktu sepanjang hari dengan menatap taman rumah sakit. Mungkinkah kau melihat pangeran kecilmu berlarian di taman itu? Aku tak berhak marah padamu. Malah seharusnya aku bersujud simpuh memohon maaf padamu karena anggukan kepalaku malam itu. Jika tidak? Entahlah. Mungkin aku hanya akan berjudi dengan waktu. Kalau saja malam itu aku tidak menganggukkan kepala, mungkin saat ini dengan kuasa Tuhan kau tetap hidup dengan rahimmu. Atau bisa jadi, kau telah berpeluk dengan pangeran kecilmu. Aku memohon maaf atas keegoisanku mempertahankanmu hanya untuk hidupku. Adinda, aku hanya ingin kau pahami  bahwa sudah kuadukkan namamu dalam bejana rindu di tungku kalbuku. Merah bara kasih sayangku padamu. Di sana, terdidih tirta kasih yang kureguk agar dirimu merasuk selamanya menjadi penggenap tulang rusukku.
Adinda, sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Kau masih saja memunggungiku. Menghabiskan ribuan detik milikmu hanya untuk menatap cemara tua di luar sana. Aku ingin mendengarmu bertanya padaku, “Mengapa kau selalu datang?” Tahukah kau, jawabannya? Karena rindu selalu mengantarku pada sebuah rumah bernama ‘KAMU’ tanpa kenal waktu.
* * *
Wanita itu tersenyum dalam tidurnya. Cahaya mentari di luar sana menerobos masuk celah jendela memberi rona di wajahnya. Nafasnya bergerak teratur.  Ia sedang berlari mengejar bocah laki-laki berambut ikal dan bermata bulat. Tawa bocah itu renyah jenaka laksana gemerick air gunung di sudut rimba cinta. “Tunggu Umi, Nak…” ia mengulurkan tangan saat bocah itu mendaki sebuah cadas besar.  Ia hanya sempat melihat sesaat sebelum bocah gempal berkulit putih itu kehilangan pegaman.
Wanita itu terbelalak. Namun, tak ada cadas hitam besar dan tinggi yang menggelincirkan putranya. Di hadapannya hanya sebuah jendela bening bertirai putih yang memantul cahaya matahari pagi. Sebatang cemara masih berdiri kokoh menatapnya.
“Mana anak kita?”
“Allah mengasuhnya.”
Ia meremas air mata mengingat kalimat itu.
“Aku kenapa?”
“Maafkan aku, Dinda,” ia melihat lelaki terbaik itu menangis. Mencium puncak kepalanya. Nafasnya terdengar berat.
“Mereka mengangkat rahimmu.”
Wanita itu bergeming. Air matanya runtuh. Pelukan laki-laki itu terasa hampa. Laksana daun yang berguguran saat kemarau datang, ia merasakan jiwanya hilang. Perlahan. Dialah ranting kesedihan yang ditinggalkan masa.
* * *
Adinda, aku telah mengizinkanmu tataplah ragu selama kau mau. Sebersikeras cahaya matamu, tapi jangan cegah cintaku memandang tulus hatimu. Hari ini, sebulan telah berlalu. Biarkan kuseka air matamu. Sebentar lagi Ramadhan tiba. Aku rindu Ramadhan seperti dulu bersamamu. Di sepenjang sudut jalan Ramadhan nanti, aku menyusuri kenangan kita. Berharap dapat memungut kembali serpihan hati yang tercecerkan. 
Adinda, sebulan telah berlalu sejak peristiwa itu. Semoga kau masih ingat kataku dulu, aku adalah kereta pembawa gerbong penuh terisi rindu, berpacu dengan jarak dan waktu untuk menuju stasiun bertulis namamu. Hingga hari ini, hampir dua tahun pernikahan kita, aku tetaplah kereta itu. Kumohon jangan lagi memunggungiku, tataplah aku, Dinda. Aku rindu senyum dan indah mata zaitunmu. Janganlah kau biarkan aku berteman hampa. Berilah isyarat apa pun yang kau bisa agar aku tahu koordinatku di ruang hatimu.
Adinda, sebulan telah berlalu sejak peristiwa itu. Lihatlah di terang malam di luar sana. Bulan sabit itu umpama dirimu, Adinda. Umpama kau yang sedang menimang anakku. Entah sedang merayu meminta senyumnya atau merajuk karena tangisnya. Semua itu kudamba dalam benakku, Dinda. Mendamba menatapmu berkasih-kasihan dengan kekasih baru kita.
 “Alhamdulillah...”
Aku hampir menangis saat kau membalikkan badan dan berusaha menegakkan punggungmu. Kau menatapku untuk  pertama kali sejak satu bulan terakhir. Senyummu masih seindah kamboja di tengah belukar rinduku. Matamu adalah sihir yang mengajakku melabuhkan rindu. Aku memelukmu erat sekali. “Maafkan aku,” bisikku.
“Aku ibu,” bisikmu parau. Tanganmu mencengkram erat punggungku. “Anakku?” bisikmu tepat di telingaku.
Sebutir mutiara bening berdenting hangat di bahuku. Aku tahu itu dari bendungan patah hatimu. Sesak di dadaku kian menjadi. Aku tahu bahumu terguncang oleh sedan. Detik berikutnya, aku tak tahu kau dapat kekuatan dari mana. Tubuhku terlempar ke lantai kamar rumah sakit. Kudengar kau meraung histeris. Kulihat kau lemparkan semua yang dapat kau raih dengan jemari lentik yang biasa kugenggam hampir dua tahun ini. Setelah itu, teriakmu lenyap. Kau malah menertawakan aku yang merana melihat tatapan hampamu.
Adindaku sedalam itukah luka oleh cinta? Aku kehilangan kata. Tak bisakah rinduku menjadi penenangmu?  Mungkin inilah saat aku akan terlupakan atau bahkan tersisih dari ingatan dan hatimu. Saat kau pilu, terpukul, dan terluka seperti ini, yakinkah hatimu, Dinda. Yakinlah aku selalu ada untukmu, Adinda. Andai dapat kuulang waktu, aku tak akan menyesal membiarkanmu tetap bersama cinta barumu yang kau semai sembilan bulan lamanya di rahimmu. Andai dapat kuputar waktu, aku tak akan menyesal membiarkan kau melanjutkan hidup bersama cinta yang kita semai di alam baru yang di tepian salsabila. Namun, maafkan aku, Adinda. Maafkan keegoisanku membuatmu kehilangan semuanya. Tahukah kau, Dinda? Rindu inilah semakin menjadi candu. Membuatku terhuyung-huyung dalam menjajari langkahmu yang seolah hendak pergi jauh dariku.
* * *

Minggu, 29 Juli 2012

DIAM



Diam, aku amat menyukainya. Kata orang diam itu emas, tetapi bagiku diamku kekal. Aku tak terbiasa bicara. Selalu saja menyimpan semuanya baik-baik di sini, di rongga dadaku. Aku tak terbiasa menulis. Selalu saja mendokumentasikan semuanya baik-baik di sini, di rongga dadaku. Kutulis dengan mata venaku yang tajam. Lalu aksara-aksara itu kubiarkan mencair dan leleh berpendar di semua sudut jiwaku. Bagiku diam adalah mendengar. Mendengar angin menangis, mendengar hutan tertawa, mendengar sungai berlari, dan mendengar ayahku mendongeng.
Saat bapakku meninggal karena kecelakaan di pabrik tempatnya bekerja, aku diam. Orang-orang mengelus kepalaku dan berkata, “Jangan menangis, Bujang.” Aku diam. Aku pun tak menangis saat bapak dengan tubuh kaku bersimbah darah diantarkan orang ke rumah kami yang sempit, lalu dimandikan, dibungkus dengan kain kafan harum. Aku tak menangis meskipun jenazahnya mulai ditimbun perlahan dengan gundukan tanah. Aku tak menangis. Aku diam. Menyimpan semuanya baik-baik di sini, di rongga dadaku. Bagiku bapak tidak pernah mati. Dia diam bersamaku. Di sini, di rongga jiwaku.
Bagiku diam adalah kekekalan untuk melawan semuanya. Melawan luapan kegembiraan agar tak meluber, melawan duka yang dapat mematikan akal, melawan tatapan sinis mereka yang terganggu dengan diamku, juga melawan kemarahan saat air mata emakku tumpah karena kaleng beras di dapur kami kosong. Aku diam karena kaleng beras itu sudah terlalu sering kosong, di bulan puasa atau bulan-bulan tanpa puasa.
* * *
Empat tahun setelah kematian bapak, aku tak bisa lagi membiarkan semuanya. Tak bisa lagi hanya mengangguk menuruti keinginan emak untuk terus diam di bangku sekolah yang kian tua dan gedungnya semakin reot. Aku benci berdiam di sana dan membiarkan jemari emakku semakin keriput terendam air sabun cucian sepanjang hari. Bagiku diam adalah perlawanan, termasuk melawan nasib yang menggerogoti kehidupan kami.  Aku nekad bekerja apa saja. Jadi kuli panggul di pasar, tukang bangunan, bahkan  pembersih sampah pasar. Aku tak bisa membiarkan tanganku diam menyaksikan kesulitan emak. Cukuplah lidahku saja yang memilih diam.  Setelah dua tahun bekerja serabutan, aku akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah surat lamaran pekerjaan.
“Kita tidak akan pernah kaya dengan uang, Bujang. Kau bersabarlah sebentar lagi hingga sekolahmu selesai. Kalau kau punya cukup ilmu, kau akan bekerja dengan otakmu bukan dengan tanganmu yang ceking itu.”
Aku diam. Memasukkan surat lamaran dan fotokopi ijazah lusuh dalam amplop coklat ukuran besar.
“Kalau saja bapak kau masih hidup, mungkin kita tidak akan semelarat ini, Bujang.” Emakku menerawang lagi, mengingat bapak yang berperang melawan cacing-cacing di kuburnya. Aku diam membuang tatap ke jendela. “Kalau saja, pabrik itu bersedia bertanggung jawab dan memberikan dana kompensasi atas kecelakaan bapak kau itu, Bujang, mungking kau punya biaya sekolah yang lebih baik.”
Aku diam. Benci mendengar emak meratapi masa lalu.
“Kau jangan ikut-ikutan bapak kau bekerja di pabrik, Bujang. Emak tak mau melihat kau merasakan susah yang sama seperti bapak kau dulu.”
Aku diam. Tertunduk meremas map coklat berisi surat lamaran kerja karena ke pabrik itulah aku akan melangkah. Bagiku diam adalah penolakan absurd terhadap larangan-larangan emak agar aku tak harus menjadi Malin Kundang yang terkutuk melawan nasihat emaknya. Bagiku diam adalah permohonan maafku atas pembangkanganku pada emak yang tak dapat membaca.
* * *
“Anak Pak Saipul kah kau ini?”  Kepala pabrik membaca sekilas surat lamaran pekerjaanku. Menggeleng-gelengkan kepala melihat ijazahku yang hanya bertuliskan nama sebuah SMP negeri.  Aku menganggukkan kepala saat dia menyebut nama bapakku dengan kesalahan penyebutan huruf  f.
Aiii… mau kerja di sini pula kau, Bujang?”
Aku mengangguk.
“Sayang, bapak kau yang bodoh tu tak cakap menggunakan mesin pemotong. Sudah kusuruh mandor mengajarnya baik-baik, tapi kepalanya yang bebal tu ternyata tak cepat tanggap dengan teknologi. Jadilah teknologi tu yang makan die.
Aku diam. Menatap mata sipitnya tajam-tajam. Bagiku diam adalah perlawanan, termasuk perlawanan atas penghinaan terhadap almarhum bapakku.
“Kau mau kerja di sini juga, Bujang?”  Ia terkekeh. Menatapku dari ujung kepala seolah hendak membaca tingkat kecerdasanku dengan otak culasnya. “Aiiii… Mesin pemotong tu memanglah dapat bekerja sendiri, tak perlu kau ajak bercakap, Bujang. Tapi kau mestilah tanggap dengan semua yang harus dilakukan terhadap mesin tu. Pencet tombol ini, pencet tombol itu, matikan ini, matikan itu. Kau bisa belajar mengoperasikan mesin berteknologi macam tu?”
Dia menatapku ingin tahu. Dibumbui rasa meremehkan yang kental. Namun, aku diam. Tak mengangguk, tak pula menggeleng.
“Hei, Bujang. Kalau kau mati karena mesin pemotong tu, alangkah tak eloknya cerita keluarga kau nanti. Bapak—anak mati karena menjalankan mesin pemotong. Alangkah tak eloknya kalau orang-orang tahu bahwa orang macam kau dan bapak kau itu terkutuk oleh mesin berteknologi. Ditambah lagi, kalian bisu pula. Nanti orang-orang pikir, orang bisu bodoh dan tak cakap mengoperasikan mesin.”
Aku diam. Menghisap semua oksigen di ruangan itu. Melawan otakku yang mendidih. Tanganku meraba sebuah badik yang selalu terselip di pinggangku.  Bagiku diam adalah penghormatan. Penghormatan untuk bapakku yang bisu. Bagiku diam adalah pemahaman. Memahami semua kata yang hendak bapak ucapkan padaku sejak masa kanak-kanakku. Bagiku diam adalah pengertian. Mengerti bapak yang hanya menyampaikan semangat dan kasih sayangnya hanya lewat mata, senyuman, dan telapak tangannya. Bagiku diam adalah bapakku. Adalah jiwaku.
“Aku tidak bisu, Bodoh!!!”
Sebuah belati bersarang tepat di ulu hati lelaki tambun yang mengejek romantisme diam antara aku dan bapak. Lelaki itu melotot menatap mataku. Entah terkejut untuk rasa sakit mahadahsyat yang sekarang menggerogoti tubuhnya atau mendengar suaraku yang mendesis tajam. 
Setelah ini, diam bagiku adalah pengakuan.
* * *